Diabetes Mellitus (DM) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia. Penyakit tidak menular ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup individu, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi dan sosial yang besar bagi keluarga serta sistem pelayanan kesehatan. Upaya pengendalian DM selama ini umumnya berfokus pada terapi farmakologis dan pengaturan pola makan, padahal pendekatan nonfarmakologis juga memiliki peran penting dalam membantu menstabilkan kadar glukosa darah.

Sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam menjawab persoalan kesehatan masyarakat, pada Rabu, 14 Januari 2026, telah dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Puskesmas Ngembal. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dosen dan Mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan ITEKES Cendekia Utama Kudus dengan mengangkat tema Penerapan Relaksasi Benson terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Mellitus.

Relaksasi Benson merupakan teknik relaksasi sederhana yang mengombinasikan pernapasan dalam, pemusatan perhatian, serta unsur keyakinan atau afirmasi positif. Teknik ini bertujuan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis sehingga tubuh berada dalam kondisi lebih rileks. Kondisi relaks tersebut dapat menekan pelepasan hormon stres seperti kortisol, yang diketahui berperan dalam peningkatan kadar glukosa darah.

Kegiatan pengabdian diawali dengan edukasi kesehatan mengenai Diabetes Mellitus, serta langkah relaksasi benson. Dalam sesi ini Luluk Cahyanti S.Kep.Ns.,M.Kep memberikan pemahaman tentang pengertian DM, penyebab DM, komplikasi DM, pengertian relaksasi benson, manfaat relaksasi benson, langkah langkah relaksasi benson dan pada sesi ini juga dijelaskan bahwa stres psikologis yang tidak terkelola dapat memperburuk kondisi pasien DM, meskipun telah menjalani pengobatan dan pengaturan diet.

Selanjutnya, peserta diajak mempraktikkan relaksasi Benson secara langsung dengan pendampingan tim pengabdian. Pasien dipandu untuk mengambil posisi yang nyaman, mengatur napas secara perlahan dan dalam, serta memusatkan pikiran pada kata atau kalimat yang menenangkan sesuai keyakinan masing-masing. Praktik relaksasi dilakukan selama kurang lebih 10–15 menit dalam suasana yang tenang dan kondusif.

Antusiasme peserta terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Sebagian besar pasien DM mengaku belum pernah mendapatkan terapi relaksasi sebagai bagian dari pelayanan kesehatan di puskesmas. Setelah praktik relaksasi, peserta merasakan tubuh lebih rileks, pikiran lebih tenang, dan ketegangan berkurang. Hasil pengukuran kadar glukosa darah sebelum dan sesudah intervensi menunjukkan adanya kecenderungan penurunan kadar glukosa darah pada sebagian peserta, meskipun hasil ini tidak dimaknai sebagai pengganti terapi medis yang telah dijalani.

Bagi mahasiswa D3 Keperawatan, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung dalam menerapkan intervensi keperawatan komplementer berbasis bukti di masyarakat. Sementara itu, bagi dosen, pengabdian ini merupakan wujud pelaksanaan tridarma perguruan tinggi sekaligus upaya mendorong inovasi pelayanan kesehatan yang holistik dan berpusat pada pasien.

Melalui kegiatan ini, Puskesmas Ngembal kembali menegaskan perannya sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan primer yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya promotif dan preventif. Kolaborasi antara puskesmas dan institusi pendidikan kesehatan menjadi kekuatan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Relaksasi Benson menjadi contoh bahwa upaya pengendalian Diabetes Mellitus tidak selalu membutuhkan biaya besar atau teknologi tinggi. Dengan edukasi yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan, pasien dapat diberdayakan untuk berperan aktif dalam mengelola kesehatannya sendiri. Langkah sederhana ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kualitas hidup pasien DM serta menginspirasi penerapan pendekatan serupa di fasilitas kesehatan lainnya.